Dari Make Up Artist Sampai Menjadi Beauty Vlogger

 Divia Sari beauty vlogger (Foto: Aprilia Dwi Handhini)



Saat ini di dalam dunia youtube khususnya di bidang kecantikan masih jarang ditemui beauty vlogger yang memiliki skin tone atau warna kulit gelap seperti “sawo matang” khas wanita Indonesia. Beauty vlogger yang memiliki skin tone sawo matang salah satunya adalah Divia Sari. Bernama lengkap Divia Sari Suwardi kerap dipanggil Divia lahir pada tanggal 15 Maret 1998. Saat ini ia menekuni bidang beauty vlogger. Saat ini ia juga masih berstatus sebagai mahasiswa di suatu perguruan tinggi di Jakarta.
Divia mengawali karirnya sebagai beauty vlogger dari hobinya yang menyukai make-up dan belajar menjadi make-up artist. Pada awalnya tidak ada niatan Divia untuk menjadi terkenal. Hal itu memang karena ia menyukai make-up dan ingin memberikan edukasi tentang make-up lokal kepada khalayak dan untuk para wanita yang berkulit sawo matang.
“Terjun kedunia make-up itu pertama kali di 2016 belajar buat jadi make-up artist. Bukan lebih ke vlogger, ya, tapi, lebih ke dandanin orang. Karena waktu itu kayanya menjanjikan terus akhirnya jalan sekitar setahun” Kata wanita berusia 21 tahun ini.

i

Setelah menekuni dunia youtube selama satu tahun ini akun youtubenya telah mencapai 33 ribu subscriber. Hal itu membutuhkan perjuangan agar ia dapat berada disaat sekarang ini. Untuk mendapatkan satu subscriber dan mendapatkan penonoton video tersebut sangat membutuhkan usaha.
Divia mengatakan untuk mendapatkan hal itu tidaklah mudah. Bukan hanya ia berdandan lalu ia bisa langsung mendapatkan uang. Ia juga harus menerima resiko jika kulitnya rusak karena berganti – ganti make-up ataupun skincare.
Lizie Para dan Suhay Salim adalah beauty vlogger yang menginspirasinya dalam dunia youtube.
Pada saat remaja ia pernah merasakan insecure karena ia memiliki warna kulit sawo matang. Melihat teman – temannya yang memiliki skin tone yang terang dan teman – temannya juga sudah mengenal hal – hal kecantikkan seperti pelembab dan pemutih membuat ia tidak percaya diri pada saat itu.
 “Pernah merasakan insecure pada masa SMP, SMA waktu remaja banget. Waktu itu kita lagi photo group semuanya putih banget. Sebenernya aku ngga kepikiran awalnya. Kepikiran karena mereka sama temen – temen cowo bilang “lo item deh dev, lo item”. Sebenernya aku sendiri ngga masalah awalnya. Karena omongan orang jadi waduh, emangnya jelek banget ya, segitunya ya”.
“Tapi, Alhamdulillah semakin besar semakin ngerti fashion, semakin ngerti dandan semakin ngerti dunia kecantikkan sekarang percaya diri sih, udah ngga pernah insecure sama sekali” tambahnya.
Seperti ibaratnya rumput tetangga lebih hijau, mungkin karena kita orang Asia melihat bule kulitnya putih cantik gitu, sedangkan bule itu ingin kulitnya coklat, mereka melakukan tanning ke Bali karena melihat orang Indonesia kulitnya cantik. Itu semua hanya masalah psikologinya saja.
Divia menyampaikan agar menghilangkan rasa insecure di dalam diri kita itu kunci utamanaya adalah harus percaya diri. Percaya “ngga kok gue cantik dengan gaya gue sendiri”. Kalau percaya diri pasti terlihat cantik. Kalaupun harus memerlukan dandan, dandan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan sendiri aja.

Akun Instagram Divia (Foto: Aprilia Dwi Handhini)

Dalam menekuni youtube ini ia mendapatkan dukungan dari orang tua dan sahabatnya. Meskipun pada awalnya orangtuanya tidak menegerti sama sekali tentang youtube. Meskipun diawal masih skeptikel belum ada uang yang didapat tidak sebanding dengan ketika ia belajar make up. Dan akhirnya saat ini orang tua sangat mendukungnya.
Ia menyampaikan harapannya agar tidak ada lagi stereotype cantik itu harus putih. Semua wanita itu bisa terlihat cantik asalkan percaya diri. Jika memang merasa memerlukan untuk make-up sesuai dengan kebutuhan dan keinginan sendiri saja, tidak usah mendengarkan apa yang di katakan orang lain. Brand kosmetik lokal terutama untuk complexion makin berkembang dan makin banyak macamnya. Tidak hanya memiliki warna – warna untuk mereka yang berkulit terang saja. Menurut ia itu sama saja bahwa brand lokal tersebut mendukung stereotype bahwa cantik itu harus berkulit putih. Dari perusahaan juga harus concern tentang urusan itu dan membuat warna – warna complexion lebih banyak. (Rep/ApriliaDwiHandhini)

Comments

Highly-Read